CHAPTER 1 “CITY OF INVESTMENT TECHNOLOGY APPROVAL RELIABLE
ORGANIZED”
Matahari pagi menyambut kota Citaro dan belahan dunia lainnya
disambut oleh bulan purnama, di pagi hari yang cerah ini
terdapat sebuah kota yang kaya akan ilmu teknologi dan ilmu
pengetahuan yang tinggi, yang berbanding balik dengan
tetangganya Seperti Ozagir, Saduoluo dan lain sebagainya. Di
pusat kota ada banyak sekali gedung-gedung tinggi yang sudah
menembus awan, terdapat sebuah kantor pos di citaro yang
masih beroperasi hingga saat ini yang bernama CCPO (Citaro
central post office). Mengapa demikian masih ada kantor pos
di kota yang sudah berkontribusi besar sekali dalam bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan?.
Semua berawal dari pendiri kota citaro yang bernama karned
Blanwen-kwino dan temannya Zlore Quick Ozzanpolzay, mereka
sendiri mengatakan bahwa suka dengan hal-hal tradisional dari
sebelum citaro di bentuk oleh mereka. Tujuannya untuk membuat
masyarakat citaro tidak melupakan yang namanya “tradisional”.
22 September 1972 tepat lahirnya kota Citaro.
Masa kini (19 September 1989),
terdapat petugas CCPO yang bernama Alderaa Marvinza sedang
melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai petugas CCPO.
Tepatnya pada di pagi hari ini ia sedang mengayunkan
sepedanya untuk mengirimkan surat kepada penerima, setelah
itu dia bergegas menuju ke CCPO untuk mengirim surat lagi,
sesampainya ia menuju ruang khusus staff dan menuju ruang
POST untuk mengambil surat mana yang ingin dia kirim ke
penerima. Didalam ruang POST terdapat lemari yang tingginya
seperti uang 10 miliar yang ditumpuk menjadi satu. Alderaa
menaiki lemari tersebut dengan sebuah tangga, ia mengambil
surat dari laci bernomor “1978” dia turun dan bergegas menuju
luar ruangan POST dan CCPO untuk pergi menuju alamat surat
yang dia ambil. Sebelum itu dia lihat dulu isi surat nya
untuk mengetahui nama pengirim, penerima, dan alamat.
Dan ternyata setelah di lihat surat tersebut berdebu dan tidak
memakai tulisan latin, tapi anehnya nama pengirim dan
penerima tidak diketahui. Alhasil alderaa bingung mengapa
surat ini masih ada di CCPO dan ia bertanya pada hati
kecilnya “jikalau ingin mengirim surat harus ada nama
pengirimnya ini kok bisa di terima ya dan apakah petugas
yang lain tau bahasa kuno atau alien ini?.”
Alderaa hanya mengetahui alamat surat tersebut dan langsung
menuju lokasi yang tertera di surat bernomor “1978”,
sesampainya ia menemukan lahan kosong yang didepan nya itu
alamat dari suratnya”keabevano, 72-78.” Ada di sebuah papan
yang masih kokoh berdiri di depan lahan kosong tersebut,
Alderaa pun kebingungan lagi, ia ingin membiarkan surat
“alien” tersebut. Akan tetapi terdapat seorang kakek yang
menghampiri alderaa, kakek itu bertanya”mengapa kau bertindak
bingung tepat di depan lahan kosong yang sudah biasa dilihat
oleh warga sekitar sini?.” kata kakek tersebut.
Jawab alderaa “oh iya kek saya petugas CCPO yang sedang mengirimkan
surat ke penerima dan alamatnya berada di lahan kosong ini.”
Sang kakek pun menjawab balik “Ohhh…gitu ya lantas mengapa
alamat nya di sini ya..” Alderaa memberikan surat 1978 itu ke
kakek dan ia melihatnya dan bingung mengapa surat ini tidak
memakai tulisan latin, dan nama pengirim pun tidak diketahui.
kakek tersebut menawarkan alderaa duduk didepan halaman
rumahnya yang berada tepat di depan lahan kosong tersebut dan
berbicara empat mata, ia menerima dan mendengar cerita dari
kakek tersebut tentang lahan kosong yang ada didepan
rumahnya.
Siang hari yang penuh kebingungan bagi seorang petugas CCPO,
karna Alderaa bercerita pada kakek tersebut bahwa ia pertama
kalinya mendapatkan kejadian seperti ini selama dia bekerja.
Sebelum itu Alderaa berterima kasih kepada sang kakek yang
mau menceritakan lahan kosong itu. tetapi ia belum mengetahui
nama kakek tersebut. Sang kakek menjawab”nama kakek William
Johnson Goodman, panggil saja kakek dengan nama depan,
tengah, atau belakang terserah kamu, oh iya siapa namamu pak
petugas?.” Alderaa membalas balik”nama saya sendiri Alderaa
Marvinza, senang bisa berkenalan dengan kakek, saya panggil
kakek goodman boleh?.” “tentu saja boleh kok pak Alderaa.”
Ujar kakek goodman.
Kakek Goodman bercerita bahwa lahan kosong itu adalah dulunya
milik seseorang yang memiliki nama panggilan bernama
“Geolanomardani” seorang pria yang tidak diketahui nama pasti
aslinya dan juga latar belakang si Geolanomardani ini, apakah
ia masih punya keluarga atau tidak. Kakek Goodman sendiri
terakhir kali liat Geolanomardani itu pada tahun 1977, ia
membeli lahan itu pada tahun 1972 dan jadikan lahan tersebut
menjadikan sebuah rumah, terdapat 5 teman yang sering
berkunjung ke rumahnya dia, diantaranya 2 laki-laki dan 3
perempuan, dan juga mereka orang sama yang selalu berkunjung
ke rumahnya. Entah temannya atau kerabatnya, karena kakek
Goodman sendiri tidak terlalu dekat dengan Geolanomardani
tapi ia pernah berbincang dengan kakek Goodman.
Geolanomardani mengatakan bahwa ia sedang membantu temannya
untuk melakukan proyek besar-besaran. Dari mulainya membuat
teknologi super canggih yang sempat membuat kakek Goodman
kagum dengan proyek dari Geolanomardani dan temannya itu.

Tinggalkan Balasan