Afinah Iffah Izzaturrahmah
Ada Jiwa yang hadir sejenak di hidup kita, bukan untuk tinggal selamanya.
Mereka hadir hanya untuk mengajarkan bagaimana cara mencintai dengan tulus, bagaimana cara bertahan ketika hati harus kehilangan, dan bagaimana cara memahami bahwa ikhlas bukan sekedar menerima sesuatu yang pergi.
Karena ikhlas tidak sesederhana “aku rela”
Ikhlas adalah saat kita belajar menerima, memahami, mensyukuri, menyadari, lalu perlahan melepaskan tanpa membenci kenangan yang pernah tinggal. Dan mungkin, itulah yang sedang dipelajari oleh Telaga dan Rembulan.
Telaga selalu menyukai malam..
Menurutnya, malam tidak pernah memaksa siapapun untuk terlihat kuat. Gelap memberi ruang bagi manusia untuk diam, berpikir, dan menyembunyikan hal-hal yang tidak mampu mereka ceritakan kepada dunia.
Karena itu, sejak kecil, Telaga terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Ia dikenal sebagai laki-laki yang tenang. Tidak banyak bicara, lebih sering mendengarkan, dan jangan memperlihatkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Banyak orang menganggapnya dingin, padahal sebenarnya ia hanya takut terlalu berharap kepada manusia.
Takut kecewa…
Takut kehilangan…
Dan takut menjadikan seseorang sebagai rumah, lalu harus belajar hidup tanpa rumah itu.
Berbeda dengan Rembulan yang biasa disapa bun.
Perempuan itu seperti namanya hadir dengan cahaya yang lembut namun mampu memuat banyak hati merasa hangat. Ia mudah tertawa, mudah peduli pada hal-hal kecil, dan selalu berhasil membuat suasana menjadi hidup.
Namun tidak banyak tahu bahwa di balik senyumnya, Rembulan juga sering merasa lelah…lelah menjadi tempat pulang bagi banyak orang, sementara ia sendiri tidak tahu harus pulang kemana.
Sampai akhirnya, semesta mempertemukannya dengan telaga.
Pertemuan mereka terjadi seperti cerita-cerita di film. Mereka hanya dua siswa SMA yang dipertemukan karena pembagian kelompok tugas.
“Nama kamu siapa ?” tanya perempuan itu sambil tersenyum kecil.
“Telaga”.
“Bagus ya namanya.”
Telaga mengangkat pandangannya perlahan. “Nama kamu juga.”
“Rembulan..”
Sejak percakapan kecil itulah semuanya dimulai. Awalnya mereka hanya berbicara seperlunya. Tentang tugas sekolah, tentang guru yang menyebalkan, atau tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun entah sejak kapan, obrolan-obrolan itu berubah menjadi kebiasaan yang menghangatkan kedua hati pemuda-pemudi tersebut.
Rembulan mulai terbiasa mencari Telaga setiap pagi. Sedangkan Telaga mulai terbiasa menunggu pesan singkat dari rembulan setiap malam. Hubungan mereka berjalan begitu saja. Tidak memiliki status yang jelas, tetapi terasa lebih dekat daripada sekedar teman biasa. Mereka seperti dua manusia yang saling menemukan tempat pulang di dalam diri satu sama lain.
“huuuhhhh Aku capek”
Kalimat itu keluar dari mulut Rembulan di suatu sore, ketika mereka duduk di perpustakaan sekolah yang hampir kosong.
Telaga menoleh pelan. “Karena tugas?” Rembulan menggelengkan kan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Karena rasanya hidup itu terlalu berisik” ucapnya sambil menatap seseorang dengan bola mata yang berwarna coklat tua itu… iya mata indah itu milik Telaga.
Telaga terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata “kalau capek, yaa istirahat aja dulu bun…” “Kalau istirahatnya nggak enak di sini ya pulang.” Rembulan pun tertawa kecil. Dan berkata “Kalau nggak punya tempat pulang ?”
Untuk pertama kalinya, Telaga tidak langsung menjawab pertanyaan sang pujaan hatinya.
Karena pada saat itu, ia sadar bahwa ia ingin menjadi tempat pulang bagi seorang perempuan yang duduk di depannya.
Sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh diam-diam di dalam hatinya. Perasaan yang perlahan menumbuhkan bunga-bunga kecil di taman hati yang sebelumnya terasa kosong. Namun seperti banyak kisah lainnya, rasa tidak pernah benar-benar disampaikan…
Mereka sama-sama merasakan kenyamanan itu. Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh diam-diam di dalam hatinya. Perasaan yang perlahan menumbuhkan bunga-bunga kecil di taman hati yang sebelumnya terasa kosong. Namun, rasa itu tidak pernah benar-benar disampaikan.
Perasaan nyaman yang dirasakan keduanya itu membuat mereka takut..karena terkadang, kenyamanan justru bisa membuat seseorang takut akan kehilangan, perubahan sikap….Padahal sering kali, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan. Melainkan perasaan yang tidak pernah sempat diucapkan.
Waktupun berjalan begitu cepat. Hari-hari yang dulu terasa panjang perlahan berubah menjadi kenangan. Kesibukan datang satu-persatu. Mimpi mulai menuntut prioritas. Dan kehidupan perlahan membawa mereka menuju arah yang berbeda. Namun di antara banyak kenangan, ada satu hari yang selalu diingat oleh Telaga. Hari ketika hujan turun sangat deras.Hari ketika ia akhirnya memberanikan diri untuk jujur.
“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya dengan pelan dan hati-hati. Rembulan menatapnya. “Apa?” Telaga menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin berhenti menjadi pengecut. Ia ingin mengatakan bahwa Rembulan adalah alasan mengapa masa mudanya terasa begitu indah, bahwa perempuan itu telah mengubah banyak hal di dalam dirinya, bahwa kehadirannya membuat dunia terasa lebih hangat.
Namun sebelum semua itu sempat keluar….Suara telepon berbunyi. Rembulan melihat layar ponselnya dan wajahnya langsung berubah.“Aku harus pergi sekarang.” “Bun, tapi aku…” “Maaf Telaga nanti ya.” Dan “nanti” ternyata menjadi sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.
Setelah hari itu, hubungan mereka perlahan berubah.Tidak ada pertengkaran,
tidak ada kebencian. Hanya jarak yang tumbuh diam-diam. Mereka masih saling mengenal, tetapi tidak lagi saling mengetahui. Hingga akhirnya waktu membawa mereka benar-benar berjalan di jalan yang berbeda.
Dan perasaan itu…tetap tinggal sebagai rahasia. Bertahun-tahun kemudian. Pada suatu hari dimana senja mewarnai hari itu, Telaga kembali datang ke danau kecil di pinggir kota.Tempat yang dulu sering mereka kunjungi diam-diam sepulang sekolah.Ia berdiri cukup lama di sana sampai sebuah suara membuatnya menoleh “Masih suka ke sini?”Jantungnya berhenti sesaat. Rembulan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Masih sama..Masih dengan mata teduh yang selalu berhasil membuat Telaga lupa cara bernafas dengan benar.“Mungkin beberapa kebiasaan memang susah hilang,” jawab Telaga pelan. Rembulan tersenyum kecil sebelum berjalan mendekat. Sore itu, mereka berbicara seperti dua orang asing yang sedang mencoba mengenali kembali rumah lamanya.Tentang hidup….Tentang mimpi….Tentang luka-luka yang pernah mereka sembunyikan. Sampai akhirnya, pembicaraan itu membawa mereka pada satu hal yang selama ini tidak pernah selesai.
“Aku dulu nunggu kamu,” kata Rembulan pelan. Telaga menoleh. “Nunggu apa?” “Kamu ngomong.” ~Hening~ Angin sore berhembus perlahan, membuat hati telaga bergejolak dan ingin mengungkapkan nya dengan perlahan..“Aku juga nunggu kamu,” jawab Telaga lirih. Rembulan tertawa kecil, tetapi matanya tidak bisa berbohong, yang tanpa ia sadari terlihat sedikit berkaca-kaca..
“Kita lucu ya,” katanya. “Sama-sama punya rasa, tapi sama-sama takut.” Rembulan mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya.“Aku sebenarnya mau kasih ini dari dulu.” Telaga menerimanya perlahan. Surat itu terlihat usang, seperti telah disimpan sangat lama. “Aku nulis itu di hari hujan waktu kamu bilang mau ngomong sesuatu.” Tangan Telaga gemetar saat membuka surat itu. Dan di sanalah semuanya akhirnya terjawab.
Aku sayang kamu, Laga.
Tapi aku takut kalau cinta membuat kita saling kehilangan.
Kalau suatu hari kita tidak bersama, aku harap kamu tetap menjadi seseorang yang bahagia. Karena mencintaimu adalah salah satu hal terbaik yang pernah Tuhan hadirkan dalam hidupku.
Telaga menutup surat itu perlahan. Dadanya terasa penuh. Bukan oleh penyesalan. Melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar…..keikhlasan.
“Bun,” katanya pelan, “kalau dulu kita jadi bersama… menurut kamu kita akan bahagia?” Rembulan menatap pantulan bulan yang perlahan muncul di atas telaga. “Belum tentu,” jawabnya lembut. “Kadang Tuhan mempertemukan seseorang bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengubah hidup kita.”
Telaga terdiam. Dan anehnya, kali ini ia tidak merasa sedih. Karena akhirnya ia mengerti…bahwa tidak semua cinta harus bersatu untuk menjadi indah. Kadang, cinta hadir hanya untuk mengajarkan manusia cara bertumbuh.
Cara mengikhlaskan. Dan cara percaya bahwa setelah kehilangan, Tuhan masih menyiapkan cahaya lain untuk dituju. Mereka berdiri berdampingan memandangi pantulan bulan di atas air. “Telaga enggak pernah punya rembulan,” kata Rembulan dengan pelan. Telaga pun bingung..”Maksudnyaa?” Rembulan pun menjawab dengan lembut “Tetapi Telaga selalu punya cara untuk memancarkan cahayanya.” Telaga tersenyum kecil. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa memahami bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan segalanya.
Karena beberapa orang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal. Namun kehadiran mereka tetap menjadi cahaya yang pernah menerangi sebagian perjalanan hidup kita. Cinta yang hadir di antara Telaga dan Rembulan mungkin tidak membawa mereka menuju kata “bersama”. Namun justru dari perasaan itulah mereka belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah mereka pahami. Tentang bagaimana mencintai tanpa memaksa. Tentang bagaimana merelakan tanpa membenci, dan tentang bagaimana ikhlas ternyata bukan hanya sekedar menerima seseorang pergi.
Ikhlas adalah saat kita mampu menerima, memahami, mensyukuri, lalu tetap mendoakan kebahagiaan seseorang meski jalannya tidak lagi bersama kita. Karena hidup bukan hanya tentang bagaimana kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Melainkan tentang pembelajaran bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki. Ada cinta yang datang hanya untuk mengajarkan manusia bagaimana cara bertumbuh.Bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri. Dan bagaimana cara percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menyiapkan hal lain yang lebih baik.
Rembulan mungkin bukan akhir perjalanan Telaga, dan Telaga mungkin bukan rumah terakhir bagi Rembulan…Namun mereka pernah menjadi bagian penting yang mengubah satu sama lain menjadi manusia yang lebih dewasa. Mereka pernah menjadi doa yang diam-diam diselipkan dalam sujud paling panjang. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Telaga kembali menatap pantulan bulan di atas air.
Cahayanya tetap indah, meski tidak bisa digenggam. Saat itulah ia kembali sadar…bahwa setelah kehilangan, hidup tidak benar-benar gelap. Karena Tuhan selalu menyiapkan cahaya lain untuk dituju.
Cahaya baru, Jalan baru.
Dan cinta lain yang telah dituliskan dengan cara terbaik menurut-Nya. Mungkin bukan sekarang. Namun suatu hari nanti, ketika hati sudah benar-benar sembuh dan siap menerima, cinta itu akan datang. Bukan untuk menggantikan kenangan, Melainkan untuk melanjutkan kehidupan.

Tinggalkan Balasan